News Banggae — Para petani di Kabupaten Banggai mulai memperkuat kemampuan adaptasi menghadapi perubahan iklim yang semakin terasa dampaknya. Salah satu upaya yang dilakukan adalah melalui program Sekolah Lapang (SL) yang digelar oleh Dinas Pertanian bersama penyuluh lapangan di sejumlah desa. Program ini berlangsung sepanjang November 2025 dan diikuti puluhan petani dari berbagai kelompok tani.

Perubahan Iklim Mulai Ganggu Pola Tanam
Dalam beberapa tahun terakhir, para petani di Banggai menghadapi cuaca yang kian sulit diprediksi. Musim hujan kerap datang terlambat, sementara suhu panas lebih tinggi dibanding biasanya. Kondisi tersebut berdampak pada penurunan produktivitas tanaman pangan seperti padi, jagung, dan sayuran.
Baca Juga : Menko Pangan: Penyelenggaraan MBG wajib perlu profesi ahli gizi
Kepala Dinas Pertanian Banggai mengatakan bahwa kegiatan Sekolah Lapang ini merupakan bentuk intervensi untuk membantu petani beradaptasi. “Perubahan iklim bukan lagi ancaman masa depan. Ini sudah terjadi saat ini. Melalui Sekolah Lapang, petani belajar cara bertani yang lebih tahan terhadap cuaca ekstrem,” ujarnya.
Materi Sekolah Lapang: Dari Pengelolaan Air hingga Varietas Tahan Iklim
Program Sekolah Lapang memberikan beragam materi praktis yang langsung diterapkan di lahan demonstrasi (demo plot). Beberapa materi yang diajarkan antara lain pengelolaan air berbasis irigasi hemat, pemilihan varietas unggul tahan kekeringan, teknik pemupukan berimbang, serta pengendalian hama terpadu.
Penyuluh pertanian setempat menjelaskan bahwa metode pembelajaran dibuat sederhana dan langsung terhubung dengan kebutuhan petani. “Kami tidak hanya memberi teori. Semua dikaji di lahan demo, sehingga petani bisa melihat langsung perbedaan hasil dan efektivitas metode yang mereka pelajari,” katanya.
Selain itu, para petani juga diperkenalkan dengan teknologi lokal adaptif seperti penggunaan mulsa organik untuk menjaga kelembapan tanah serta penerapan kalender tanam berbasis prakiraan iklim.
Petani Mulai Rasakan Manfaat
Sejumlah petani mengaku kegiatan ini membantu mereka memahami pola cuaca baru yang sering berubah. Salah seorang peserta, Herman (42), mengatakan hasil tanamnya menurun tahun lalu karena cuaca yang tidak menentu. “Lewat Sekolah Lapang ini, saya tahu kapan harus mulai tanam dan bagaimana menghemat air saat musim panas. Ini sangat membantu kami di lapangan,” ujarnya.
Program ini juga memberi ruang bagi petani untuk berdiskusi mengenai pengalaman dan kendala, sehingga dapat mencari solusi bersama.
Dorong Ketahanan Pangan Lokal
Pemerintah daerah berharap program Sekolah Lapang dapat meningkatkan ketahanan pangan di Kabupaten Banggai. Dengan petani yang lebih memahami teknik adaptasi iklim, risiko gagal panen diharapkan bisa ditekan.
“Kami ingin petani Banggai tetap produktif meski menghadapi tantangan perubahan iklim. Program ini akan diperluas ke kecamatan lain tahun depan,” tambah Kepala Dinas Pertanian.
Sekolah Lapang menjadi salah satu langkah strategis daerah dalam memastikan sektor pertanian tetap berdaya saing, sekaligus menjaga keberlanjutan produksi pangan di tengah tantangan iklim yang semakin kompleks.











